TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG DI BLOG "viharagirisantiloka.blogspot.com", Semoga Blog ini bermanfaat untuk orang banyak,.... JANGAN BOSAN-BOSAN YA,.. DI TUNGGU KEDATANGANNYA KEMBALI :)
Untuk memudahkan Sahabat membaca artikel-artikel dan update selalu dari blog Viharagirisantiloka.
kini telah hadir digengamanmu, sebuah aplikasi Viharagirisantiloka diandroid,. 
Sahabat bisa langsung Download GRATISSSSS 

DOWNLOAD

Rabu, 23 Maret 2016

Mengapa Saya Miskin, Mengapa Saya Jelek, Mengapa Saya Selalu Tidak Beruntung ? Ini Dia Penyebabnya

Mengapa Saya Miskin, Mengapa Saya Jelek, Mengapa Saya Selalu Tidak Beruntung ? Ini Dia Penyebabnya


Namo Buddhaya, salam bahagia pada keempatan yang baik ini kita akan sedikit mengulas tentang topik Mengapa Saya Miskin, Mengapa Saya Jelek, Mengapa Saya Selalu Tidak Beruntung ? Ini Dia Penyebabnya.

Diantara para sahabat pasti pernah merasa heran kenapa melihat orang lain enak banget ya, punya banyak uang, menarik perhatian dan apa yang di inginkan selalu terpenuhi, sedangakan kita harus bersusah payah untuk mencari kebahagian dalam hidup yang kita jalani.

Dalam agama Buddha tentu kita sudah mengenal yang namanya hukum Karma Sang Buddha sangat jelas membabarkan hukum ini, merupakan hukum sebab akibat dimana siapa yang menabur dia pula yang akan menuai buahnya manis atau pahit tergantung perbuatan kita sendiri.

Jadi jika kawan-kawan merasa ada ketidak adilan dalam hidup yang kalian jalani janganlah merasa iri dan membenci orang tersebut mungkin inilah KARMA yang kita buat sehingga kita banyak mengalami ketidak enakan dalam hidup ini.

Oleh sebab itu mulai detik ini setelah kawan-kawan sedhamma membaca artikel ini perbanyaklah kebajikan dengan berbuat baik untuk bekal kita kelak di kehidupan yang akan datang. Contoh Sederhana Hukum Sebab Akibat.

Demikianlah artikel Mengapa Saya Miskin, Mengapa Saya Jelek, Mengapa Saya Selalu Tidak Beruntung ? Ini Dia Penyebabnya, semoga bermanfaat jika ada kata atau kalimat yang salah jangan segan-segan beritahukan admin terima kasih. Salam Metta..!!!

Read more »

Mengapa Bhikkhu Theravada Diperbolehkan Makan Daging Hewan ?

Mengapa Bhikkhu Theravada Diperbolehkan Makan Daging Hewan ?


Tanya : Saya sering mendapatkan pertanyaan dari umat beragama lain, yaitu Mengapa bhikkhu-bhikkhu Theravada diperbolehkan makan daging hewan ? Bukankah dengan makan daging tersebut secara tidak langsung akan mengakibatkan seseorang (penjagal) akan terus melakukan pembunuhan terhadap hewan agar dagingnya bisa dijual dan dibeli orang untuk dimakan ?

Bagaimana tanggapan Bhante dan bagaimana seharusnya saya menjawabnya? Mohon Bhante memberikan petunjuk. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas jawaban Bhante. Semoga dengan jawaban Bhante dapat memuaskan saya.

Jawab : Dalam peraturan ke bhikkhuan tradisi Theravada, tidak pernah disebutkan adanya keharusan bagi seorang bhikkhu untuk tidak makan daging. Bahkan, pada jaman Sang Buddha ketika ada seorang bbikkhu yang mengusulkan kepada Sang Buddha agar para bhikkhu tidak makan daging, Beliau memberikan jawaban bahwa para bhikkhu diperkenankan untuk melatih diri tidak makan daging, namun latihan ini hendaknya tidak dijadikan suatu peraturan atau keharusan.

Sikap tidak menjadikan sayuranis sebagai peraturan untuk para bhikkhu Theravada ini karena para bhikkhu makan hanyalah untuk sekedar bertahan hidup, bukan menjadi tujuan hidup. Para bhikkhu yang selalu mendapatkan makanan dari para umat hendaknya mudah dirawat dan tidak mempersulit umat. Oleh karena itu, apabila ada umat yang menyediakan para bhikkhu makanan tanpa daging, para bhikkhu tidak akan menolak atau meminta makanan yang lain. Sebaliknya, apabila ada umat yang menyediakan para bhikkhu makanan yang berdaging, maka para bhikkhu juga tidak akan menolak serta meminta makanan yang lain pula. Dengan demikian, umat menjadi lebih mudah menyantuni makanan serta merawat kehidupan para bhikkhu.

Adanya pandangan bahwa jika para bhikkhu tidak makan daging akan mengurangi pembunuhan hewan sebenarnya adalah pandangan yang sangat sempit dan menganggap dunia ini hanya berisi para bhikkhu saja sebagai penduduknya.


Dengan demikian, ketika para bhikkhu tidak makan daging, pembunuhan hewan akan berkurang atau bahkan berhenti sama sekali. Hal ini jelas tidak masuk akal. Buktinya, Indonesia dengan sebagian besar penduduknya tidak mengkonsumsi daging babi, di pasar tradisional daging babi tetap dengan mudah dapat diperoleh.

Terdapat tiga persyaratan daging yang tidak dapat dimakan oleh para bhikkhu yaitu:

1. Melihat,
2. Mendengar, atau
3. Meragukan binatang itu dibunuh untuk dipersembahkan sebagai makanan untuk para bhikkhu.

Dengan adanya tiga persyaratan daging ini maka umat yang membeli daging atau bangkai di pasar setelah dimasak dapat dipersembahkan kepada para bhikkhu tanpa mempunyai kesalahan maupun kamma buruk apapun juga. Di pasar, dibeli ataupun tidak, dimakan bhikkhu ataupun tidak, bangkai itu sudah ada di sana dan sudah terjadi pembunuhan mahluk hidup.

Oleh karena itu, bhikkhu Theravada makan daging ataupun tidak, sebenarnya hal ini sangat tergantung pada umat yang memberikan dana makanan, bukan tergantung pada para bhikkhu yang tidak dapat memesan maupun memasak makanannya sendiri.

Jadi, kalau memang ada umat walaupun dari agama lain mengharapkan bhikkhu Theravada tidak makan daging, sebaiknya mereka dipersilahkan untuk membantu dan mendukung kehidupan para bhikkhu dengan menyediakan SELAMANYA makanan tanpa daging untuk para bhikkhu Theravada di vihara terdekat. Dengan demikian, mereka bukan hanya sekedar memberikan usulan atau bahkan kritikan tentang jenis makanan para bhikkhu, melainkan mereka juga dapat memberikan jalan keluar yang bermanfaat untuk semua fihak

Semoga jawaban ini dapat membantu melengkapi jawaban atas pertanyaan para umat beragama lain tersebut. Semoga bahagia.
Dari Erfina M.R., Banjarmasin
Sumber : https://brivitegal.wordpress.com

Read more »

Senin, 01 Februari 2016

Perlunya Membalas Jasa Orang Tua

Membalas Budi Orang Tua

"Kunyatakan, O para bhikkhu, ada dua orang yang tidak pernah dapat dibalas budinya oleh seseorang. Apakah yang dua itu? Ibu dan ayah"
Bahkan seandainya saja seseorang memikul ibunya ke mana-mana di satu bahunya dan memikul ayahnya di bahu yang lain, dan ketika melakukan ini dia hidup seratus tahun, mencapai usia seratus tahun; dan seandainya saja dia melayani ibu dan ayahnya dengan meminyaki mereka, memijit, memandikan, dan menggosok kaki tangan mereka, serta membersihkan kotoran mereka di sana bahkan perbuatan itupun belum cukup, dia belum dapat membalas budi ibu dan ayahnya.

Bahkan seandainya saja dia mengangkat orang tuanya sebagai raja dan penguasa besar di bumi ini, yang sangat kaya dalam tujuh macam harta, dia belum berbuat cukup untuk mereka, dia belum dapat membalas budi mereka. Apakah alasan untuk hal ini? Orang tua berbuat banyak untuk anak mereka: mereka membesarkannya, memberi makan dan membimbingnya melalui dunia ini.

Tetapi, O para bhikkhu, seseorang yang mendorong orang tuanya yang tadinya tidak percaya, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam keyakinan; yang mendorong orang tuanya yang tadinya tidak bermoral, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam moralitas; yang mendorong orang tuanya yang tadinya kikir, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kedermawanan; yang mendorong orang tuanya yang tadinya bodoh batinnya, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kebijaksanaan – orang seperti itu, O para bhikkhu, telah berbuat cukup untuk ibu dan ayahnya: dia telah membalas budi mereka dan lebih dari membalas budi atas apa yang telah mereka lakukan.

(II, iv, 2)

Read more »

Derita dari Dendam

Dendam Membawa Penderitaan ( Sebuah Renungan )

Dendam yang tertumpuk lama dan mengendap akan membuat hati Anda membusuk dan memberatkan hidup Anda. Mari belajar dari anak-anak ini.

Di sebuah sekolah dasar, seorang guru akan memberi pelajaran motivasi dengan praktik langsung. Guru tersebut meminta murid-muridnya menuliskan nama orang-orang yang pernah jahat dan menyakiti mereka. Kemudian, sang guru meminta murid-muridnya mencoret nama-nama yang telah mereka maafkan. Sedangkan nama-nama yang belum dimaafkan akan ditulis pada apel hijau yang harus mereka bawa keesokan harinya.

Sang guru meminta murid-murid menuliskan satu nama orang yang belum mereka maafkan pada satu apel. Ternyata ada banyak nama yang mereka tulis. Masing-masing murid harus membawa sendiri sejumlah apel tersebut dalam plastik. Mereka harus membawanya kemanapun mereka pergi selama berhari-hari. Jika mereka kesal dengan seseorang dan belum memaafkan, mereka harus menulis lagi pada apel lain dan membawanya. Begitu terus setiap hari.

Semakin hari, apel terasa semakin berat. Murid-murid mulai merasa capek harus membawa kantong-kantong itu, bahkan saat mereka tidur. Mereka jadi susah bermain, susah mengerjakan PR dan melakukan aktivitas lain. Hingga pada akhirnya, apel-apel mulai busuk dan mengeluarkan bau yang tidak enak. Akhirnya mereka protes kepada sang guru yang memberi tugas aneh tersebut.

Sang guru tersenyum lalu menjelaskan, “Anggaplah apel-apel itu sebagai dendam yang kalian tumpuk karena tidak memaafkan seseorang. Semakin banyak dendam yang kalian tumpuk, semakin berat hati kalian untuk melihat kebaikan orang lain dan menikmati kebahagiaan.”

Para murid mendengarkan dengan antusias.“Yang harus kalian lakukan pada apel-apel itu.. buanglah! Tidak ada gunanya menyimpan dendam. Coba nikmati perasaan setelah kalian membuang apel-apel dendam itu, kalian akan lebih ceria dan bahagia,” ujar sang guru.

Akhirnya anak-anak itu mengerti. Mereka pelan-pelan mulai belajar memaafkan orang lain. Memaafkan dengan tulus agar hati mereka tetap terjaga dari prasangka buruk. Satu persatu apel busuk dibuang. Satu persatu murid mulai menikmati kebahagiaan tanpa dendam.

***
Dendam tidak akan memberi manfaat apapun, Anda hanya akan menyakiti diri sendiri. Lepaskan dendam Anda karena hati Anda akan lebih terbuka untuk melihat kebahagiaan yang ada.

Sumber : SL Books
Sumber Gambar : Facebook Dhamma Kehidupan

Read more »

Rabu, 11 November 2015

Pacarku Beda Agama, Apa Yang Harus Saya Lakukan?

Pacar Saya Bukan Seorang Buddhis Apa Yang Harus Saya Lakukan ?

Namo Buddhaya, pada kesempatan yang baik ini senang sekali bisa kembali membuka sebuah topik tanya jawab yang seru ini. Ada sebuah pertanyaan dari saudari ELY dari Jakarta, yang bertanya seperti ini ?

Tanya : Namo Budhaya, Bhante, pacar saya bukan seorang Buddhis sedangkan saya Buddhis. Saya sering mendengar romo ataupun penceramah di vihara bahwa hendaknya sepasang insan seiman hingga menuju perkawinan.

Bhante, saya hendak bagaimana? Dia begitu baik namun saya takut pada akhirnya saya akan menyesal.

Bhante, maaf bila masalah ini memang sudah pernah dibahas sebelumnya.
Terima kasih.

Jawab : Dalam Anguttara Nikaya II. 60 memang diuraikan bahwa salah satu persyaratan agar pasangan hidup dapat menjalani kehidupan bersama dengan harmonis dan serasi apabila paling sedikit mereka memiliki empat kesamaan. Keempat kesamaan itu adalah kesamaan keyakinan, kesamaan kemoralan, kesamaan kedermawanan dan kesamaan kebijaksanaan. Dengan demikian, idealnya seseorang mempunyai pasangan hidup yang sama agamanya.

Oleh karena itu, apabila pacar masih belum mengenal Ajaran Sang Buddha, ada baiknya berusaha mengenalkan Buddha Dhamma kepadanya. Kondisikan agar dia dapat mendengar maupun mempelajari Buddha Dhamma. Usahakan hal ini secara baik-baik dan tidak terkesan memaksakan kehendak.

Namun, apabila calon pasangan hidup tersebut bersikeras untuk tidak mempelajari Buddha Dhamma sama sekali, maka kondisikan agar dia dapat menerima kebenaran yang ada dalam agama lain. Dengan demikian, hendaknya ia tidak memiliki pengertian keliru bahwa hanya agama dia sendirilah yang paling benar, sedangkan agama orang lain adalah sesat. Pandangan keliru seperti ini akan memancing perdebatan seru dan permusuhan sengit di dalam keluarga maupun masyarakat.

Karena itu, hendaknya dapat dimengerti bahwa seseorang memilih agama adalah berdasarkan kecocokan pribadi, bukan karena kebenaran suatu agama. Kebenaran suatu agama sungguh sulit dibuktikan. Misalnya saja, ada kepercayaan yang menyatakan bahwa seseorang yang meninggal dengan agama tertentu akan terlahir di alam surga.

Hal ini sulit dibuktikan karena sejak jaman dahulu hingga saat ini belum ada orang yang meninggal dan hidup kembali untuk menceritakan pengalamannya di surga. Kalaupun ada pengalaman yang mirip seperti itu biasanya pengalaman tersebut lebih banyak didasari kepercayaan setempat yang tidak berlaku secara universal.

Kalau pengalaman itu tidak berlaku secara universal, maka tentunya pengalaman itu lebih banyak berdasarkan kondisi bawah sadarnya sendiri daripada berdasarkan kenyataan.

Oleh karena itu, kalau pasangan hidup yang beda agama dapat sama-sama memiliki pandangan netral seperti yang telah diuraikan di atas itu, maka ada kemungkinan rumah tangga yang akan dibina dapat berjalan secara harmonis dan membahagiakan. Namun, kalau salah satu fihak tidak dapat menerima kebenaran yang ada di semua agama, maka mungkin tindak lanjut proses berpacaran ini perlu ditinjau kembali.

Kalau memang ia adalah orang baik, walaupun bukan sebagai pasangan hidup, ia dapat menjadi seorang sahabat di kala suka dan duka tanpa harus terikat perkawinan dengannya. Seseorang dapat menjadi teman hidup, tanpa harus menjadi pasangan hidup. Sebaliknya, kadang pasangan hidup yang telah diikat dalam janji perkawinan bukanlah teman hidup yang baik.

Semoga pandangan dan saran ini dapat direnungkan dengan baik sebagai bekal menempuh hidup di masa yang akan datang. Semoga selalu bahagia.
Salam metta,
B. Uttamo
Sumber : http://mari-kita-rencanakan-pesta-pernikahan.blogspot.co.id/

Read more »